Halaman Statis

Hartono Christian: Pelatihan Dasar Militer Bukan Jawaban bagi Calon Manajer Koperasi Desa


Peraih penghargaan Duta Parlemen Muda, Duta Berkarya Muda, Duta Pendidikan Muda, serta Top Compassionate Mentor, Hartono Christian Rogate Girsang, mempertanyakan urgensi pelaksanaan latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes). Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dikaji ulang agar tidak mengaburkan tujuan utama pembentukan sumber daya manusia yang profesional di sektor ekonomi kerakyatan.

Hartono Ketua Cabang Sibolangit menilai bahwa koperasi desa merupakan lembaga ekonomi yang membutuhkan pemimpin dengan kompetensi manajerial, kemampuan bisnis, serta pemahaman mendalam mengenai pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa materi pelatihan seharusnya difokuskan pada peningkatan kapasitas yang relevan dengan tugas seorang manajer koperasi, bukan pada pendidikan yang berorientasi militer.

"Calon manajer koperasi tidak dipersiapkan untuk menjadi prajurit. Mereka dipersiapkan untuk mengelola usaha, meningkatkan daya saing koperasi, membangun kepercayaan masyarakat, dan mengembangkan ekonomi desa. Karena itu, pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan profesi mereka," ujar Hartono.

Ia juga mendorong pemerintah untuk mengembalikan peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada tugas pokoknya sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan, yakni menjaga pertahanan negara dan kedaulatan nasional. Menurutnya, pelibatan institusi militer dalam pelatihan yang bersifat manajerial perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak menimbulkan persepsi bergesernya fungsi utama masing-masing institusi.

Lebih lanjut, Hartono mengusulkan agar pemerintah menyusun kurikulum pelatihan yang benar-benar menjawab kebutuhan operasional koperasi modern. Setidaknya terdapat tiga bidang kompetensi yang dinilai menjadi prioritas utama.

Pertama, Manajemen Operasional dan Bisnis, yang mencakup pengelolaan stok barang, pengendalian rantai pasok, pengelolaan keuangan, analisis penjualan, hingga penyusunan strategi bisnis yang berkelanjutan.

Kedua, Pemasaran dan Pengalaman Pelanggan (Customer Experience). Menurut Hartono, koperasi harus mampu memahami perilaku konsumen, membangun pelayanan yang berkualitas, mengembangkan pemasaran digital, serta menciptakan loyalitas pelanggan agar mampu bersaing dengan jaringan ritel modern.

Ketiga, Manajemen Area dan Visual Merchandising, yaitu kemampuan menata ruang usaha secara efektif, mengelola tata letak produk, menciptakan tampilan toko yang menarik, serta meningkatkan kenyamanan konsumen ketika berbelanja. Kompetensi ini dinilai berpengaruh langsung terhadap peningkatan penjualan dan citra koperasi di tengah persaingan pasar.

Hartono menegaskan bahwa keberhasilan Koperasi Desa tidak akan ditentukan oleh kemampuan baris-berbaris ataupun kedisiplinan bergaya militer semata, melainkan oleh kemampuan manajerial, kepemimpinan, inovasi, dan pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

"Kita sedang membangun ekonomi desa, bukan membentuk satuan militer baru. Yang dibutuhkan koperasi adalah manajer yang memahami bisnis, mampu membaca pasar, melayani pelanggan dengan baik, dan membawa koperasi menjadi lembaga ekonomi yang sehat serta kompetitif," tegasnya.

Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali arah kebijakan pelatihan bagi calon manajer koperasi sehingga setiap materi yang diberikan benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia usaha, meningkatkan profesionalisme pengelola koperasi, serta memperkuat daya saing ekonomi desa secara berkelanjutan.

Meski demikian, Hartono menambahkan bahwa apabila pemerintah menilai unsur kedisiplinan dan kepemimpinan penting untuk ditanamkan, pelatihan tersebut sebaiknya dirancang secara proporsional sebagai bagian kecil dari pengembangan karakter, tanpa menggeser fokus utama pada penguasaan kompetensi manajemen koperasi dan bisnis.

Jangan Ketinggalan
Pergerakan Kami.

Dapatkan rangkuman berita Suara Salemba langsung ke email atau WhatsApp setiap minggu.